15
April
Persahabatan Dua Bianatang
Di
sebuah pohon yang rindang di dalam Hutan yang lebat ,ada dua Ekor binatang yng
bersahabat si burung manyar dan Wanara ( kera ). Keduanya sering bercakap-cakap
tentang masalah kehidupannya.

Dengan bersungguh hati
Si Burung Manyar menjelaskan tentang kegunaan dan manfaat sebuah Rumah.”
Sahabatku , rumah itu banyak sekali gunanya. Dengan mempunyai rumah kita dapat
berteduh dari kehujanan dan berlindung di kala kepanasan dan kedinginan. Kita
terhindar dari terpaan angin kencang.kita dapat kenyamanan hidup, bercanda ria
dan bercengkrama bersama keluarga. Aku sarankan kepadamu cobalah membuat rumah
nanti kau akan tahu merasakan. Karena begitu nayak dan besar manfaatnya’’.
Sang Wanara kemudian
menyahut :’’ ya bangsa burung memang budayanya membuat sarang .waktu kalian
habis hanya untuk membuat rumah,lalu kalian kapan ada waktu untuk
bersenang-senang seperti aku ?”” Si Burung Manyar kembali meyakinkan Sang Wanara
dengan sungguh-sungguh dan begitu penuh semangat ;” Hai Sang Wanara ,tidakkah
kamu terkenang dengan para leluhurmu ,nenek moyangmu,mereka adalah para Ksatria
dan prajurit tangguh dari Sang Ramadewa. Sang Sugriwa dan Sang Anoman terkenal
karena keperkasaannya. Mereka bahkan mampu dan sanggup membuat jembatan yang
kokoh dan panjang serta menuju ke negeri alengka . kemudian mereka menyerbu
Negeri itu dan menghancurkan Negeri alengka yang terkenal dengan Prajurit yang
Gagah dan perkasa.”Mengapa engkau tidak meniru jejak Nenek Moyang yang Agung
dan luhur itu.nama mereka bahkan hingga kini dicatat dalam tinta sejarah Emas.
Aku member nasehat ini kepadamu adalah demi kebaikanmu juga Sahabatku.Tirulah
Nenek Moyangmu,warisan leluhurmu yang begitu agung dan adiluhung.Mengapa
kerjamu hanya bermalas-malasan,tidur-tiduran,tanpa berusaha untuk membangun
rumah untuk anak-anakmu? Engkau biarkan anak-anakmu bergelantungan dibadanmu
kemanapun engkau pergi.kepanasan dan kehujanan,brpindah dari satu pohon kepohon
yang lain, tanpa mampu engkau lindungi dengan baik “.dan banyak lagi nasehat Si
burung manyar kepada Sang Wanara.Tetapi semua nasehatnya tidak dihiraukan oleh
Sang Wanara .Dia tetap bergelayutan di cabang pohon .Tidur sambil berpegangan
di dahan dan menggendong anak yang masih merah tanpa Bulu. Si Burung Manyar
amat prihatin menyaksikan hal ini.
Karena merasa
nasehatnya tidak dihiraukan oleh sahabatnya ,maka pada suatu hari Si Burung
manyar pergi ke sebuah Padepokan . Sebuah Peshraman seoranSulinggih yang Arif
bijaksana.Kesanalah ia memohon nasehat dan petunjuk mengenai tingkah laku
sahabatnya Sang Wanara (kera ).kerena dia sudah kehabisan bahan dan akal untuk
meyakinkan sang Wanara, mengenai manfaat sebuah rumah, bagi sebuah
keluarga,setelah tiba di sana Si burung manyar menghaturkan sembah Bhakti .
“ Singgih Ratu Peranda
sane suksemayang Titiang ,tiang tangkil meriki, santukan nunas bawos,tur
piteket-piteket Anggen titian bekel nuturan brayan titian,e Sang wanara’’
Bagaimana cara hamba menasehati lagi
agar sahabat hamba mau untuk membuat Rumah , hamba kasihan melihat
anak-anaknya ,giginya mengelitik dan badannya menggil disaat kehujanaan ,begitu
juga sebaliknya di saat panasnya terik matahari
Setiap kali hamba
bertemu dengan sahabat hamba ,hamba selalu memperingati sahabat hamba agar mau
membuat rumah demi masa depannya” Demikian Si burng Manyar mengadu kepada sang
pandita.
Mendengar penuturan
Sang Burung Manyar, sang pandita yang arif bijaksana itu menganggut-manggut
sambil memahami duduk persoalannya. Dengan bijak beliau berkata “”anakku Burung
Manyar , janganlah melengkungkan kayu yang tidak selayaknya di lengkungkan .
jika di paksakan kayu tersebut akan patah.Jangan pula menjalakan kereta yang
tidak beoda. Jangan sekali-kali member nasehat kepada orang yang tidak menghendaki.
Akan sia-sia pebuatan yang engkau lakukan semuanya itu tanpa guna . Malahan
bisa berakibat lain dari yang dikehendaki . Jadi biarkanlah Sang Wanara itu
,mungkin dengan membuat rumah dan tempat tinggal di dalamnya dia tidak merasa
bahagia .sebab semua mahluk sudah mempunyai Kodrat sendiri-sendiri .Ikan yang
biasa hidup di Air tidak mungkin di ajak hidup di darat. Walaupun menurut
pandanmganpun hidup didarat jauh lebuh enak dari pada di air. Nasehat yang
diberikan akan sia-sia dan tidak berguna ,serta membuang-buang waktu ‘’
Demikian nasehat pendeta kepada Sang Burung Manyar.
SEMOGA BERMANFAAT "Om Shanti, Shanti, Shanti, Om"
15
April
Om Svastyastu,
Om Avighnam Astu Namo Siddham
Om Anno Bhadrah Krattavo Yantu
Visvattah

Sebelum lebih jauh Bapak berbicara,
terlebih dahulu Bapak akan menyampaikan tema dharma wacana yang akan Bapak
sampaikan. Adapun tema dharma wacana kali ini adalah “Kewajiban Sisya dalam
masa Brahmacari”. Tema ini sengaja Bapak angkat, mengingat dan melihat
fakta-fakta dilapangan, banyak sekali siswa-siswa Hindu yang memiliki perilaku
dan sikap yang menyimpang dari ajaran-ajran yang ada dalam agama Hindu. Ini
menunjukan bahwa betapa lemahnya iman dan sraddha siswa terhadap agama dan
kepercayaan yang dianut. Dari permasalahan ini, maka akan timbul
pertanyaan-pertanyaan semisal, “Kenapa masalah ini timbul? Siapakah yang
bertanggung jawab dalam masalah ini? Mengapa sraddha siswa begitu lemah
sehingga muncul permasalahan-permasalahan tersebut? Nah dengan pertanyaan itu,
maka akan Bapak singgung sedikit disini, mengenai kewajiban-kewajiban siswa
dalam masa menuntut ilmu, baik di sekolah maupun dirumah serta di lingkungan
masyarakat.
Anak-anak yang bapak banggakan,..
Bapak ingin bertanya terlebih dahulu,
Apa itu Brahmacari?
Siapa saja yang termasuk ke dalam masa
Brahmacari Asra
Apakah kewajiban-kewajiban masa
Brahmacari sesuai dengan ajaran agama Hindu?
Mungkin kalian sedikit banyak telah
memahami pengertian tentang brahmacari asram, akan tetapi dengan keadaan
psikolog dan jiwa kalian pada saat sekarang ini yang masih sangat labil
(goyah), kalian tidak dapat menjalankan ajaran-ajaran mengenai Brahmacari ini.
Seperti teori John Locke, kita terlahir
itu seperti halnya kertas putih yang bersih, belum ada coretan sedikitpun,
kemudian melalui keluarga, sekolah dan masyarakat, perlahan-lahan kertas putih
itu akan terisi penuh coretan-coretan, baik itu coretan yang baik maupun
coretan yang buruk. Nah, masa-masa seperti kalian inilah kalian memiliki
beberapa coretan baik dan buruk, keduanya memiliki pengaruh yang sangat kuat,
sehingganya masa sekarang jiwa kalian sering kali mengalami lonjakan, gairah,
semangat dan ambisi yang memiliki grafik turun naik. Jika coretan-coretan yang
buruk kalian sering lakukan, maka kalian akan menjadi orang yang bodoh dan
terbelakang, baik dari segi kehidupan jasmani maupun rohani.
Untuk itu, maka sekolah dan keluarga
memiliki peran yang sangat penting untuk mendidik dan membersihkan
coretan-coretan buruk kalian. Agar kelak kalian menjadi masusia yang “Manusya”
yang memiliki iman dan sraddha yang kuat untuk menghadapi ancaman dan pengaruh
kerasnya kehidupan di dunia pada masa global saat ini.
Anak-anak yang bapak banggakan,..
Brahmacari adalah masa-masa kalian
untuk menuntut ilmu, baik di lembaga formal maupun non formal. Masa ini
merupakan masa uji atau masa yang sangat menentukan karma hidup kalian
selanjutnya, jika kalian kuat menghadapi dan melewatinya niscaya kalian akan
menjadi insane yang bahagia dan sejahtera dalam kehidupan (Jagadhita) dan alam
baka (Moksa). Namun, jika kalian tidak mampu melewatinya, maka celakalah
kalian. Contoh kecilnya seorang yang dalam masa sekolah, dia menjadi preman dan
suka berantem karena ambisi, guna rajasnya yang tak terkendali, ego (Ahamkara)
dan pikiranya diliputi kebodohan (avidya), dengan sikap demikian tentunya dia
akan rugi sendiri, salah satunya, dia bisa terancam dikeluarkan dari sekolah,
memiliki musuh yang bisa saja dapat mengancam kehidupanya kelak, menjadi
terkenal dengan kejahatanya, susah memperoleh peluang dan bersaing dalam
memperoleh pekerjaan untuk penompang hidup kelak, dsb.
Anak-anak yang bapak banggakan,..
Coba kalian renungkan, jika kalian
mengalami hal tersebut?
Bagaimana orang tua kalian yang
mengharapkan keturunanya dapat mengharumkan nama keluarga di masyarakat, namun
yang terjadi malah sebaliknya. Jika hal ini terjadi, maka orang tua kalian akan
merasa ditampar keras dan tentunya akan merasa malu dengan memiliki anak
seperti kalian. Hidup orang tua kalian pun pastinya tidak akan dapat tenang
baik di dunia maupun di alam kekal nantinya.
Apakah kalian bahagia, jika orang tua
kalian seperti itu?
Apakah kalian bangga membuat orang tua
kalian seperti itu?
Bapak yakin, kalian semua tidak mau
orang tua yang melahirkan kalian menjadi susah, sengsara, menderita dan malu
karena ulah kalian. Kalian adalah orang-orang yang pintar-pintar semua, jadi
kalian bisa merenungkan kembali demi kalian dapat membahagiakan orang tua
kalian.
Kalian bisa????
Anak-anak yang berbahagia,..
Tadi merupakan sedikit gambaran tentang
brahmacari, dengan gambaran tersebut, kita akan tahu lebih jauh mengenai siapa
saja yang termasuk ke dalam brahmacari asram?
Dalam ajaran agama Hindu, brahmacari
merupakan urutan yang pertama dari Catur Asrama yang merupakan empat tingkatan
atau masa hidup manusia, kemudian Grhasta, yaitu masa berumah tangga, kemudian
wanaprastha, yaitu masa hidup mengasingkan diri dari kehidupan duniawi, yang
terakhir Bhiksuka/Sanyasin yaitu masa memperdalam tingkat spiritual lebih
lanjut agar dapat memperoleh moksa.
Keempat asram ini, memiliki
kewajiban-kewajiban dan juga pantangan-pantangan yang harus dipatuhi.
Yang termasuk ke dalam brahmacari asram
adalah mereka yang masuk ke dalam tahapan belajar ilmu pengetahuan. Yaitu sejak
orang itu dilahirkan hingga dia benar-benar telah menjadi insane yang
berpribadi, mandiri, bijaksana, dan dewasa. Kemudian yang termasuk ke dalam
Grhasta asram adalah mereka yang telah dewasa dan siap lahir dan bhatin untuk
melangkah ke pawiwahan atau perkawinan. Kemudian yang termasuk ke dalam
wanaprastha asram adalah mereka yang telah mampu membentuk keluarga yang
sakhinah dan sejahtera, sehingganya tidak terikat lagi oleh kewajiban-kewajiban
dan tugas-tugasnya sebagai orangtua kepada anaknya. Yang terakhir, Bhiksuka,
mereka yang telah benar-benar sadar akan kebeeradaan Tuhan, sehingganya mereka
tidak lagi terikat hal-hal yang bersifat keduniawian. Nah dengan demikian,
bagaimana dengan kalian, termasuk ke dalam asram yang mana?
Anak-anak yang bapak sayangi,…
Tugas dan kewajiban brahmacari adalah
seperti tadi bapak uraikan, kalian harus belajar dan belajar. Belajar ilmu
pengetahuan, teknologi, agama, social dan ilmu-ilmu yang lainya. Karena manusia
itu memiliki tingkat intelektual yang sama dengan ilalalng, ketika kalian
berada pada usia sekarang ini, kalian bagaikan tunas baru dari ilalang, sangat
tajam, namun semakin tua usia kalian, maka ketajaman itu akan berkurang dan
akhirnya kalian merunduk dan tidur selamanya.
Jadi, masa-masa seperti saat sekarang
inilah, masa-masa kalian harus benar-benar serius, dan benar-benar memusatkan
konsentrasi untuk belajar, ingat hari ini tidak akan kalian temukan esok, lusa
atau kapanpun, masa ini kalian tidak temukan juga besok atau kapanpun. Coba
kalian renungkan, saat-saat sekarang inilah kalian harus belajar dan belajar
untuk hari esok kalian.
Anak-anak yang bapak banggakan,..
Ilmu pengetahuan itu, sifatnya tidak
seperti memakan cabai, sekarang dimakan sekarang pedas. Jadi sekarang kita
belajar, tidak harus sekarang guna dari ilmu itu kita pergunakan, akan tetapi
kelak dalam kehidupan yang akan kalian jalani lebih lanjut lagi.
Disamping belajar, siswa juga harus
melaksanakan brata (pengendalian diri) untuk melaksanakan disiplin-disiplin di
sekolah sebagai tempat menuntut ilmu. Jangan melakukan tindakan-tindakan yang
menyimpang dari displin yang ditetapkan oleh sekolah.
Nilai-Nilai di Dalam Sebuah Keikhlasan/Pengorbanan di Dalam (Yadnya)
Yadnya
berasal dari Bahasa sansekerta dari kata Yaj yang berati memuja atau melakukan
pengorbanan. Dari kata yaj timbul beberapa kata, Antara lain: yajus, yajna dan
yajamana. Kata yajna sendiri berarti korban suci, yajamana artinya orang yang
melaksanakan yajna. Jadi pengertin yajna (yadnya) adalah korban suci yang tulus
ikhlas tanpa pamrih untuk kepentingan umat manusia dan alam sekitarnya.
Yadnya
adalah suatu karya suci yang dilaksanakan dengan ikhlas kerena getaran jiwa/
rohani dalam kehidupan ini berdasarkan dharma, sesuai ajaran sastra suci Hindu
yang ada (Weda). Yadnya dapat diartikan pula memuja, menghormati, berkorban,
mengabdi, berbuat baik (kebajikan) pemberian, penyerahan dengan penuh kerelaan
(tulus iklas) berupa apa yang dimiliki demi kesejaterahan serta kesempurnaan
hidup bersama dan kemahamuliaan Sang Hyang Widhi Wasa. Pelaksanaan yadnya bukan
hanya sebagai tanda kehidupan beragama, kitab Atharwa weda menjelaskan sebagai
berikut :
“Satyam brhad rtam ugram, diksa tap brahma
yadnyah prthiwin dharayanti,
sa no bhutasya asya patyanyurumlokam”.
(Atharwa weda,XII.I)
Artinya:
Kebenaran hokum yang agung, yang kokoh dan suci,
tapa, bratha, doa dan yadnya inilah yang menegakkan bumi, semoga bumi ini
sepanjang massa memberikan tempat melegakan bagi kami.
Demikianlah
kitab Atharwa Weda menjelaskan, bahwa yadnya adalah salah satu pilar payangan
tegaknya kehidupan di dunia ini. Kitab Bhagawadgita juga memberikan petunjuk
tentang yadnya kepada kita, sebagai berikut :
“
Sahayajnah Praja srshtva kalkun vacha prajapati,
Anena prasavisyadhvam esa vo
stvistakhamadhuk”(Bhagawadgita, III.10)
Artinya :
Pada
zaman dahulu kala prajapati (tuhan) menciptakan manusia dengan yadnya dan
bersabda, dengan ini engkau akan mengembangkan serta memelihara kehidupannya.
Tujuan Yadnya :
Tuhan
menciptakan alam semesta beserta isinya untuk kelangsungan hidup manusia maka
dari itu sudah sepatutnya kita membalas
dengan cara mengucapkan puji syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa
dengan cara yadnya yang di lakukan dengan rasa tulus ikhas baik itu yadnya yang
bersifat kecil maupun yadnya yang bersifat besar (agung). Sehingga dengan kita
melakukan sebuah yadnya maka akan terjadi hubungan keseimbangan Antara tuhan,
manusia, dan alam (Tri Hita Karana) sesuai dengan konsep agama hindu dimana
jika kita dapat mewujudkan keseimbangan maka akan terwujud pula keharmonisan
hidup yang di dambakan oleh seluruh umat manusia di dunia ini. Seperti di dalam
Bhagawadgita III.2 menyebutkan :
‘ishtan
blogan, hivodeva, donsyante yajna bhavitah
Tair
dattan apradayabho, yobhunkte stena eca sah”
Artinya:
Dipelihara
oleh yadnya para dewa, akan memberikan kamu kesenangan yang kamu inginkan. Ia
yang menikmati pemberian ini, tanpa memberikan balasan kepadanya adalah
pencuri.
Selanjutnya
Sloka Bhagawadgita III.13 Menyatakan:
“yajna sisya sinah santo, nucyanta
sarwa kilbisaih, bhujate tuagham papa, ye pacauty atmakatanat”
Artinya:
Orang yang baik, maka apa yang tersisa
dari yadnya mereka itu terlepas dari segala dosa, akan tetapi mereka yang jahat
yang menyediakan makanan kepentingan sendiri, mereka itu adalah makan dosanya
sendiri.
Jadi
sesuai dengan petikan sloka di atas dapat ditegaskan bahwa yadnya itu merupakan
sebuah persembahan yang dilakukan secara tulus ikhlas dengan tujuan untuk
melangsungkan kehidupan yang berkesinambungan dengan cara menciptakan
kesembangan dalam hubungannya (Tri Hita Karana) untuk mewujudkan kebahagian di
dunia ini. Selain itu juga tujuan yadnya yaitu untuk menciptakan kelangsungan
kehidupan yang berkesinambungan yaitu dengan cara :
-
Membayar Rna (hutang) untuk mencapai
kesempurnaan hidup
Melebur dosa untuk
mencapai kebebasan yang sampurna
1. Untuk
Mengamalkan Ajaran Weda.
Weda
adalah sumber ajaran Hindu. Sebagai sumber ajaran, di dalam weda-lah seluruh
praktik ajaran hindu tersirat dan tersurat.
2. Untuk
Meningkatkan Kualitas Diri
Dalam
ajaran agama dan ajaran pengendalian diri, manusia perlu mengendalikan
pikirannya agar dapat dengan baik mencapai harapan hidupnya. Dari sisi
peningkatan diri, yadnya pada hakekatnya merupakan pengorbanan suci yang
bertujuan mengurangi rasa egois manusia
3. Untuk
penyucian
Beryadnya
merupakan salah satu upaya untuk mengamalkan ajaran agama jnanam phalam. Setiap
saat bila akan melaksanakan upacara baik bersifat kecil maupun besar,
sebelumnya mesti didahului dengan melaksanakan penyucian diri dan lingkungan
sekitar.
4. Untuk
dijadikan sarana berhubungan dengan tuhan.
Umat
yang melaksanakan yadnya juga melaksanakan yoga, yaitu pemusatan pikiran
kehadapan tuhan dan pengendalian diri secara utuh
5. Untuk
mencetuskan rasa terima kasih.
Berterima
kasih merupakan salah satu kewajiban kita menjadi manusia dapat menyatakan rasa
syukur baik melalui pikiran merupakan sebuah yadnya.
Nilai-Nilai yang
terkandung di Dalam Sebuah Yadnya
Yadnya adalah suatu
karya suci yang dilaksanakan dengan ikhlas karena getaran jiwa/ rohani dalam
kehidupan ini berdasarkan dharma, sesuai ajaran sastra suci Hindu yang ada
(Weda). Yadnya dapat pula diartikan memuja, menghormati, berkorban, mengabdi,
berbuat baik (kebajikan), pemberian, dan penyerahan dengan penuh kerelaan
(tulus ikhlas) berupa apa yang dimiliki demi kesejahteraan serta kesempurnaan
hidup bersama dan kemahamuliaan Sang Hyang Widhi Wasa.
Di dalamnya terkandung nilai- nilai:
Di dalamnya terkandung nilai- nilai:
Di Dalam Yadnya Terkandung
Nilai-Nilai
1. Rasa Tulus Ikhlas dan
Kesucian
2. Rasa Bhakti da Memuja
(menghormati) Sang Hyang Widhi Wasa, Dewa, Bhatara,Leluhur, Negara dan Bangsa,
dan Kemanusiaan
3. Di Dalam Pelaksanaan di
Sesuaikan dengan Kemampuan masing-masing menurut tempat (desa), waktu (kala),
dan keadaan (patra).
4. Rasa Kebersamaan
5. Suatu ajaran dan catur
weda yang merupakan sumber ilmu pengetahuan suci dan kebenaran yang abadi.
1.Rasa Tulus Ikhlas dan Kesucian
Yadnya di dalam suatu upakara haruslah di dilandasi oleh rasa tulus
ikhlas dengan rasa yang senang. Persembahan yang tulus ikhlas dan dilandasi
hati yang bersih niscaya tuhan akan menerima persembahan yang kita haturkan
kepada beliau. jika apa yang kita persembahkan itu ingin di terima tuhan, maka
kita harus memberinya dengan rela, tulus dan suka cita tanpa ada motivasi
terselubung dibalik itu dan jangan sampai kita memberikan dengan terpaksa atau
karena dipaksa oleh pihak lain, jika tidak, maka persembahan kita tidak akan
berarti apa-apa dihadapan tuhan dan tidak mendapatkan berkat bagi kita. Mungkin
dengan persembahan yang diberikan orang lain disenangkan, tapi belum tentu hal
itu menyenangkan hati tuhan. Dalam persembahan yang tulus ikhlas tuhan tidak
melihat besar kecilnya persembahan yang kita persembahkan, namun motivasi dan
ketulusan hati kita. Dan jangan pernah hitung-hitungan dengan tuhan, apalagi
menahan berkat yang seharusnya kita salurkan kepada yang berhak menerima.
2.Nilai
Bakti dan taqwa terhadap Ida Sanya Hyang Widhi wasa
Yadnya adalah suatu
persembahan korban suci kepada Sang hyang widhi wasa dan seluruh
manifestasi-nya yang terdiri dari Brahma selaku dewa pencipta, Wisnu selaku
dewa pemelihara dan Siwa selaku maha Pralina (pengembali ke asalnya) dengan
mengadakan persembhayangan bersama, muspe di pura serta melakukan Tri Sandhya (bersembahyang tiga kali
sehari). Korban suci tersebut dilaksanakan pada hari-hari suci, hari peringatan
(rerahinan), hari ulang tahun (pewedalan) atau hari-hari raya lainnya seperti
hari raya galungan, hari raya saraswati, hari raya nyepi dan lain-lainnya
3.
Rasa
Keikhlasan sesuai dengan kemampuan
Yadnya adalah korban suci secara
tulus ikhlas dalam rangka memuja Hyang Widhi. Pada dasarnya Yadnya adalah
penyangga dunia dan alam semesta, karena alam dan manusia diciptakan oleh Hyang
Widhi melalui Yadnya. Pada masa srsti yaitu penciptaan alam Hyang Hidhi dalam
kondisi Nirguna Brahma ( Tuhan dalam wujud tanpa sifat ) melakukan Tapa
menjadikan diri beliau Saguna Brahma ( Tuhan dalam wujud sifat Purusha dan
Pradhana ). Dari proses awal ini jelas bahwa awal penciptaan awal dilakukan
Yadnya yaitu pengorbanan diri Hyang Widhi dari Nirguna Brahma menjadi Saguna
Brahma . Selanjutnya semua alam diciptakan secara evolusi melalui Yadnya.
Dalam Bhagawadgita Bab III, sloka 10 disebutkan :
saha-yajòàá prajàh såûþwà purowàca prajàpatih; anena prasawiûyadham eûa
wo ‘stw iûþa-kàma-dhuk
artinya :
Dahulu
kala Prajapati ( Hyang Widhi ) menciptakan manusia dengan yajnya dan bersabda;
dengan ini engkau akan berkembang dan akan menjadi kamadhuk keinginanmu.
Dari satu sloka di atas jelas bahwa manusia saja diciptakan
melalui yadnya maka untuk kepentingan hidup dan berkembang serta memenuhi
segala keinginannya semestinya dengan yadnya. Manusia harus berkorban untuk
mencapai tujuan dan keinginannya. Kesempurnaan dan kebahagiaan tak mungkin akan
tercapai tanpa ada pengorbanan. Contoh sederhana bila kita memiliki secarik
kain dan berniat untuk menjadikannya sepotong baju, maka kain yang utuh
tersebut harus direlakan untuk dipotong sesuai dengan pola yang selanjutnya
potongan-potongan tersebut dijahit kembali sehingga berwujud baju. Sedangkan
potongan yang tidak diperlukan tentu harus dibuang. Jika kita bersikukuh tidak
rela kainnya dipotong dan dibuang sebagian maka sangat mustahil akan memperoleh
sepotong baju. Dari gambaran sederhana di atas dapat diambil kesimpulan bahwa
demi mencapai kebahagiaan dan kesempurnaan hidup maka kita harus rela
mengorbankan sebagian dari milik kita. Hyang Widhi akan merajut
potongan-potongan pengorbanan kita dan menjadikannya sesuai dengan keinginan
kita. Tentu saja pengorbanan ini harus dilandasi rasa cinta, tulus dan ikhlas.
Tanpa dasar tersebut maka suatu pengorbanan bukanlah yadnya. Pengorbanan dalam
hal ini bukan saja dalam bentuk materi. Segala aspek yang dimiliki manusia
dapat dikorbankan sebagai yadnya, seperti; korban pikiran, pengetahuan, ucapan,
tindakan , sifat, dan lain-lain termasuk nyawa sendiri dapat digunakan sebagai
korban.
Dengan demikian dikatakan bahwa
manusia di ciptakan berasal dari yadnya maka dari itu kita sebagai manusia
haruslah mempersembahkan yadnya agar tercipta hubungan yang harmonis Antara
Tuhan,Manusia dan Alam (Tri Hita Karana) namun didalam pelaksanaannya kita
sebagai manusia haruslah mempersembahkan sesuai dengan kemampuan yang kita
miliki karena sesungguhnya tuhan tidak pernah memaksakan ciptaannya untuk
melakukan sesuatu hal yang diluar kemampuannya.
4.
Rasa kebersamaan
Dalam
melaksanakan yadnya diperlukan suatu pengorbanan baik itu pengorbanan diri
sendiri maupun menyangkut orang lain. Ajaran moral dan etika dapat dipetik di
dalam melaksanakan sebuah yadnya yaitu yadnya mendidik umat manusia untuk
melaksanakan pekerjaan dengan tulus ikhlas, dan pekerjaan yang dilakukan
diabdikan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Jadi hal ini akan mengurangi rasa
mementingkan diri sendiri dan egoism. Selain mengandung nilai etika dan moral
yang tinggi, yadnya juga menuntut umat manusia untuk memahami hakekat dirinya
sendiri, merupakan makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri
Contohnya : di
dalam melakukan sebuah upacara yadnya di pura atau yang disebut dengan karya
agung pastinya kita tidak bisa melakukan atau menyelesaikan sebuah upacara
yadnya tersebut dengan seorang diri apalagi sesuai dengan waktu yang telah di
tentukan, maka dari itu klian adat akan mengundang semua krame untuk hadir
bergotong royong/bekerjasama untuk menyelesaikan rangkaian dari upacara
tersebut. Menghadiri undangan dan memperlakukan sopan merupakan perwujudan
nilai sosial yang hidup dan berkembang di desa pakraman yang bersangkutan.
Demikian banyak hal yang terkandung di dalam sebuah yadnya yaitu nilai luhur dan ketika kita mampu memaknai
dan melaksanakan makna moksatham jagathita (kesejaterahaan di dunia dan
diakhirat) yang kita cita-citakan akan tercapai.
6.
Suatu
ajaran dan catur weda yang merupakan sumber ilmu pengetahuan suci dan kebenaran
yang abadi.
Dengan ilmu
pengetahuan orang dapat hidup lebih baik, lebih nyaman dan bahagian tetapi
dengan ilmu pengetahuan pula, jutaan orang dapat juga di buat gelisah dan hidup
sengsara. Ilmu pengetahuan yang merupakan wara nugraha-nya sesungguhnya adalah
netral. Ilmu pengetahuan akan menjadi baik dan berguna bagi manusia dan
kemanusian. Ilmu pengetahuan dapat menjadi kejam dan ganas ditangan orang yang
tidak bertanggung jawab. Karena itu watak dan moral serta dan terutama adalah
kerokhanian agama harus selalu berjalan di depan dan memberi arah kepada ilmu
pengetahuan.
Ilmu pengetahuan
yang berlambangkan sebagai dedikasi dan bhakti umat manusia kepada Ida Sang
Hyang Widhi Wasa yang telah menurunkannya.
Contonya: Saraswati yadnya, dimana
di dalam upakara dan rangkaian hari raya saraswati yang kita rayakan, makna
saraswati adalah sebagai berikut : Manusia di ciptakannya mempunyai suatu
kelebihan yang luar biasa bila dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya.
Dengan pikiran dan kemampuan yang dimiliki, umat sanggup dan wajib memanfaatkan
wara nugraha pangwerung yang diturunkan-nya kepada umatnya untuk menuingkatkan
kehidupan rohani dan demi tercapainya cita-cita suci yaitu Moksa dan Jagathita
(kebahagian dan kesejaterahan lahir dan bhatin).
Tentang
kewajiban untuk meningkatkan kerohanian umat, dalam Bhagawadgita menyebutkan
bahwa seseorang harus meningkatkan dirinya dengan jalan memakai kemampuan
pikirannya, jangan menurunkan derajat dirinya karena pikiran adalah teman bagi
atma yang terikat, tetapi pikiran itupun musuhnya juga.
Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa ilmu pengetahuan merupakan teman yang baik yang akan
menghantarkan kita menuju masa depan yang lebih baik dan memberikan hikmah
dalam kehidupan sehari-hari, di timba seumur hidup dan harus diamalkan untuk
kemanusiaan.
15
April
Om atau AUM adalah suku kata yang paling suci dalam tradisi hindu yang sering digunakan dalam Budhhisme, kata Om sangat di sucikan sampai-sampai tidak boleh di dengarkan atau diucapkan, di dalam masyarakat Primitive kata Om merupakan suatu objek yang di puja, tapi juga ditakuti dan menjadi suatu yang tidak boleh untuk di ucap disembarangan tempat.
kata OM sering diperdengarkan pada awal persembahhyangan dan di akhrir persembhayangan, dimana didalam kata OM melambangkan kesungguhan dari doa yang digunakan pada keadaan yang sekuler.
OM juga merupakan simbol dari penegasan atau doa, dipercaya bahwa dapat terhubung dengan 'Hum" yang digunakan dalam meditasi oleh para yogi yang memiliki makna dimana nantinya dapat menuju kebebasan.